Opinion

Indonesia: Tanah Surga… Katanya

Zulhabri Supian

Zulhabri Supian suka berjalan dan bercita-cita untuk menghayati semangat anak muda walau nanti akan tua secara biologi. Zulhabri juga aktif di Komuniti Frinjan (http://frinjan.blogspot.com), Alternative Tourism (http://www.facebook.com/altourism.asia) dan menulis di blog (http://habri.blogspot.com).

21 DIS — Bukan lautan hanya kolam susu... katanya 

Tapi kata kakekku (datuk) hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu

Kail dan jala cukup menghidupimu... katanya 

Tapi kata kakekku ikan-ikan kita dicuri oleh banyak negara

Tiada badai tiada topan kau temui... katanya  

Ikan dan udang menghampiri dirimu... katanya

Tapi kata kakek, awas ada udang di balik batu

Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman... katanya 

Tapi kata dokter Intel, belum semua rakyatnya sejahtera banyak pejabat yang menjual kayu & batu untuk membangun surganya sendiri

Puisi di atas dibacakan Salman dalam filem “Tanah Surga... Katanya” dalam rangka menyambut orang atasan melawat sekolah di sebuah kampung terpencil di Kalimantan Barat yang bersempadan dengan Malaysia. Bacaan puisi Salman, pelajar pintar di kampung itu langsung membuat orang atasan tersebut tidak senang duduk. Filem ini diarah oleh Herwin Novianto dan diproduseri Deddy Mizwar yang terkenal dengan filem satira politik, “Kentut dan Alangkah Lucunya (Negeri Ini)”.

Puisi ini terinspirasi dari lirik lagu “Kolam Susu” dendangan Koes Plus yang memuja kesuburan tanah di Indonesia. Namun di lapangan faktanya tidak demikian, Indonesia sebagai negara pertanian yang subur dan makmur jauh dari kolam susunya sehingga import tepung singkong (ubi kayu) yang digunakan untuk industri kertas, tekstil dan makanan minuman mengalami lonjakan pada tahun ini.

Lebih memilukan, sepanjang tiga tahun Indonesia dibawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan kabinet Indonesia Bersatu II-nya, Indonesia terpaksa mengimport lima komoditi utama nasional iaitu beras, jagung, kacang soya, gula dan daging lembu. Sesuatu yang tidak terbayangkan selama ini mengingat banyak kalangan di Malaysia menjadikan Indonesia sebagai salah satu model negara yang mandiri dalam ketersediaan makanan selain Thailand.

Sudah tentu banyak faktor menyumbang seperti pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi, namun di luar itu lajunya alih fungsi penggunaan lahan pertanian seperti yang terjadi di Bali sangat memprihatinkan. Sawah-sawah padi di pulau surga ini perlahan-lahan bertukar menjadi sawah villa dan hotel. Tentunya pemilik baru iaitu kaum pemodal tidak akan berfikir tentang kesan jangka panjang, apatah lagi angkat bicara tentang kemiskinan struktural petani. 

Becik, warga Bali dalam suratnya kepada akhbar Bali Post mengutip pandangan seorang peneliti: “Indonesia merupakan satu-satunya negara yang berani menukar lahan pertanian ke bukan pertanian baik untuk perumahan atau pembukaan bandar baru”.

Tanah neraka

Bagi sebahagian warga korban kekerasan dan penindasan, Indonesia adalah tanah neraka. Situasi kebebasan beragama di Indonesia cenderung memburuk enam tahun terakhir. Pada 2007 terdapat 135 peristiwa, 2008 ada 265 peristiwa, 2009 ada 200 peristiwa, 2010 ada 216 peristiwa dan 2011 ada 244 peristiwa.

Berdasarkan laporan “Kondisi Kebebasan Beragama/Berkeyakinan di Indonesia Tahun 2012” oleh Setara Institute, peristiwa dan tindakan yang menganggu kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia semakin memburuk pada 2012. Sepanjang 2012, tercatat 264 pelanggaran kebebasan beragama dengan 371 bentuk tindakan terutama di Jawa Barat, Jawa Timur, Aceh, Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan. Sebanyak 145 (39 peratus) tindakan melibatkan polis, pemerintah setempat dan Kementerian Agama dan sisanya oleh warga sendiri.

Nasib sama turut dilanda kaum pekerja di Indonesia. Sehingga Ogos 2012, jumlah rakyat Indonesia yang bekerja berjumlah 110.8 juta orang dan sebanyak 7.2 juta orang menganggur. Dari 110.8 juta, sebanyak 44.2 juta orang (39.86 peratus) bekerja di sektor formal dan 66.6 juta orang (60.14 peratus) di sektor informal.

Data ini menunjukkan bahawa sebahagian besar pekerja di Indonesia bekerja tanpa jaminan kesihatan, hari tua, jaminan kemalangan di tempat kerja dan jaminan untuk tetap bekerja di dalam jangka panjang. Tidak hairan apabila gerakan pekerja semakin keras dalam menuntut kenaikan gaji minimum dan penghapusan outsourcing.  

Tanah surga akhirnya?

Di kala Eropah dan Amerika Syarikat dilanda krisis kewangan dan China serta India mengalami penurunan, ekonomi Indonesia tumbuh dengan pesat. Tahun 2013 pertumbuhan ekonomi disasarkan 6.8 peratus, satu angka wajar melihat pertumbuhan beberapa tahun terakhir di atas 6 peratus.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi didorong oleh faktor demografi di mana data Bank Dunia menunjukkan 55 peratus penduduknya tergolong dalam kelompok kelas menengah. Kenaikan jumlah kelompok kelas menengah dengan belanja US$2-20 sehari dari 81 juta orang pada 2003 menjadi 134 juta orang tahun 2011 sangat luar biasa dan kesannya boleh dilihat jika kita berjalan di Orchard Road di Singapura dan Bukit Bintang di Kuala Lumpur.

Maka tidak menghairankan apabila bos AirAsia, Tony Fernandes berpindah ke Jakarta membuka pejabat AirAsia ASEAN sebagai langkah awal meraih rezeki di tanah surga. Bahkan baru-baru ini (18/12) Tony menulis di laman Facebook beliau: “Highest load factor for AirAsia today. Since we started this airline. 94 per cent. And our new domestic routes in Indonesia making great progress. We making good profits in Indonesia.” Magnet tanah surga ini turut menarik konglomerat besar Malaysia seperti CIMB, Maybank, Axiata, Parkson (Centro) dan perusahaan kecil seperti Bangi Kopitiam dan Roti Boy.

Namun kelas menengah yang bertambah belum memberi impak besar kepada ekonomi kerana masih sekadar kelas menengah konsumptif, jauh dari kelas menengah pencipta seperti di Korea Selatan, Taiwan dan Singapura. Mencipta bangsa Indonesia yang berbudaya pencipta wajib diberi keutamaan oleh pemerintah melihat melimpah ruahnya bakat-bakat kreatif Indonesia di mana-mana. 

Indonesia mempunyai harapan cerah menjadi kuasa ekonomi dunia jika negara diurus dengan benar. Melihat kualiti kerja mahasiswa Malaysia di UiTM dan mahasiswa Indonesia di Limkokwing saja sudah memperlihatkan jurang kreativiti yang terwujud. Tinggal lagi Indonesia harus kuat dan tidak putus asa melawan para koruptor yang seenaknya menjadikan Indonesia surga mereka.

* Ini adalah pandangan peribadi penulis.

 

Comments