Opinion

Kelas menengah Indonesia dan Malaysia

Zulhabri Supian

Zulhabri Supian suka berjalan dan bercita-cita untuk menghayati semangat anak muda walau nanti akan tua secara biologi. Zulhabri juga aktif di Komuniti Frinjan (http://frinjan.blogspot.com), Alternative Tourism (http://www.facebook.com/altourism.asia) dan menulis di blog (http://habri.blogspot.com).

12 MAC — “Jumlah orang Indonesia yang berpenghasilan menengah tumbuh pesat dalam tempo kurang dari sepuluh tahun. Jika ukuran bank dunia yang dipakai, yakni bahawa kelompok ini adalah mereka yang pengeluaran per kapita per harinya US$2-20 (RM6-60), terdapat sekurang-kurangnya 130 juta orang. Dengan tingkat penghasilan semakin tinggi, pola konsumsi pun bergeser-mereka mulai membeli barang dan jasa yang bisa memenuhi keinginan-keinginan akan hiburan, wisata, pendidikan dan kesehatan. Bagaimana mereka menjalani hidup setelah naik kelas?”

Begitulah pengenalan liputan khusus Majalah Tempo edisi 20-26 Februari 2012 berjudul ‘Kelas Konsumen Baru’ — sebuah judul yang diguna pakai tim liputan menggantikan istilah ‘kelas menengah’ untuk menghindari perdebatan yang tak perlu berkaitan istilah tersebut yang masih menuai masalah dan masih “membingungkan” dari sisi akademik bak kata Pak Chatib Basri.

Apa yang dilalui Indonesia saat ini merupakan fasa yang telah dijalani banyak negara termasuk Malaysia dan ramai di kalangan kita yang masih belum menyedari bahawa negara jiran kita ini bukan lagi Indonesia yang dimomok-momokkan sebagai negara yang kacau bilau seperti sering tergambar di media arus perdana Malaysia.

Ya memang di sana masih berlaku banyak kekerasan, korupsi apatah lagi kemiskinan yang masih menjolok mata, namun membiarkan diri kita terpesona dengan persepsi Indonesia yang negatif hanya akan menjerumuskan Malaysia ke kancah keterpurukan.

Menurut Fauzi Ichsan, Managing Director Standard Chartered Bank, “Indonesia ditopang tiga pilar ekonomi yakni sektor konsumsi domestik (sekitar 65 persen dari GDP, sektor komoditas (60 persen dari eksport-yang diuntungkan oleh prospek kenaikan harga komoditas dalam 10 tahun ke depan) dan prospek pembangunan infrastruktur - kalau dengan infrastruktur yang buruk saja ekonomi Indonesia tumbuh 6-6.5 persen per tahun, apatah lagi bila infrastruktur lebih baik” Indonesia diramal akan menduduki posisi kelapan pada tahun 2020 dan posisi keempat pada tahun 2030 sebagai sebuah negara yang memberikan sumbangan untuk jumlah penduduk kelas menengah dunia .

Berdasarkan Peratusan Pola Distribusi Konsumsi menurut Broad Category, Indonesia 2010, duit lebihan kelas konsumen baru Indonesia ini secara turutan dibelanjakan untuk makanan dan minuman non-alkohol sebanyak 41.7 peratus, perumahan 17.2 peratus, produk dan perkhidmatan rumah tangga 7.3 peratus, pendidikan 7.1 peratus, hotel dan katering 5.8 peratus, minuman beralkohol dan rokok 5.2 peratus dan seterusnya.

Gaya hidup kelas konsumen baru Indonesia ini memunculkan banyak pusat membeli belah baru, sekolah antarabangsa, penjualan kereta yang dijangka mencecah 1 juta tahun ini, pengejar konsert muzik sehingga ke Singapura dan sekitar 2 juta pelancong yang mengunjungi Malaysia sepanjang 2011.

Pengalaman peribadi saya sendiri yang sering berhubungan dengan masyarakat Indonesia membenarkan kewujudan kelas konsumen baru ini yang dari hari ke hari bertambah jumlahnya. Salah satu pengalaman menarik tatkala perlawanan akhir pusingan pertama Piala AFF pada hujung 2010 yang mempertemukan Malaysia dan Indonesia di mana saya bersama rakan di Jakarta menguruskan hampir 40 tetamu yang tanpa menghitung wang terus menempah pakej menonton di Bukit Jalil. Hal yang sama turut dilakukan ribuan rakyat Indonesia lainnya yang datang cuma sebenatar dari Jakarta memadati Stadium Nasional kita walaupun keputusannya tidak memihak kepada mereka.

Tren sama turut berulang di perlumbaan Formula 1 dan Moto GP yang diadakan di Litar Sepang saban tahun dan pasar ini diambil serius oleh Sepang International Circuit dan Tourism Malaysia yang agresif mempromosikan dua acara berkelas dunia ini kepada warga Indonesia. Jika dahulunya fokus jualan kepada masyarakat di Jakarta, untuk tahun ini Tourism Malaysia turun ke Acheh mempromosikan Formula 1 di Sepang dan produk-produk pelancongan lainnya. Hal ini tidak menghairankan kerana kunjungan pelancong Indonesia pada tahun 2011 berada di posisi kedua setelah Singapura dan diramal akan meningkat dari tahun ke tahun.

Kelas menengah?

Agak menarik untuk diperhatikan bahawa salah satu alasan diguna pakai istilah kelas konsumen baru menurut Pak Chatib Basri adalah kerana identifikasi kelompok ini muncul dari konsumsinya dan kita belum tahu pasti implikasi politiknya.

Menurut Merlyna Lim, peneliti masalah media baru dari Arizona State University, Amerika Syarikat, “Kelas konsumen baru Indonesia baru tertarik berpartipisasi dalam sebuah gerakan politik jika risikonya kecil, cuba anda ajak mereka turun ke jalan berunjuk rasa. Pasti sulit kerana risikonya kecil.”

Hal ini berlawanan pula di Malaysia di mana kelas konsumen baru turut berperanan sebagai kelas menengah dalam erti kata lebih aktif dalam dunia politik. Tren ini ditandai dengan perhimpunan Bersih 2007, tsunami politik pilihanraya Mac 2008, perhimpunan Bersih 2.0 dan baru-baru ini Himpunan Hijau 2.0 di Kuantan. Berdasarkan kajian Pew Global Attitudes Survey yang termuat di laman web The Economist bertarikh 3 September 2011 dengan judul, “The new middle classes rise up”, lebih 60 peratus reponden kelas menengah di Malaysia mendukung demokrasi mengatasi kelas berpendapatan rendah dengan selisih sekitar 10 peratus.

The Economist dalam tulisannya menyimpulkan; “At the moment, middle-class activism is a protest movement rather than a political force in the broader sense. It is an attempt to reform the government, not replace it. But that could change. In most middle-income countries, corruption is more than just a matter of criminality; it is also the product of an old way of doing politics, one that is unaccountable, untransparent and undemocratic.

Budiarto Shambazy, Redaktur Senior Harian Kompas dalam tulisannya turut bersetuju ketika mengulas perhimpunan Bersih 2.0, “Gelombang ketidakpuasan yang terjadi di Malaysia kemarin (Sabtu, 9/7) digerakkan oleh kelas menengah. Itulah sebabnya sulit membayangkan gelombang ketidakpuasan terhadap seperti itu menjalar ke Indonesia. Dibandingkan dengan negara lain di Timur Tengah, Maghribi (Afrika Utara), Malaysia juga Thailand, kelas menengah Indonesia tergolong terbelakang.”

“Masalah bagi demokrasi kita sekarang ini adalah mana suara kelas pembayar pajak ini terhadap soal pluralisme, toleransi dan keadilan. Seandainya terjadi krisis politik, apakah kelas ini akan mencari rasa aman  pada demokrasi, atau pergi lagi pada doktrin-doktrin komunal?” — Rocky Gerung, pengajar falsafah di Universiti Indonesia

Meskipun begitu, kewujudan kelas konsumen baru atau kelas menengah Indonesia dengan segala kekurangannya di dalam aksi politik tidak mengubah fakta bahawa ekonomi Indonesia sedang bertumbuh pesat dibandingkan dengan Malaysia. Seandainya berlaku perubahan tampuk pemerintahan di Malaysia pada pilihanraya umum ke 13 yang akan diadakan sebelum April 2013, saya percaya Pakatan Rakyat akan menyikapi perubahan yang terjadi di Indonesia dengan jernih dan kurang sombong. Kepercayaan ini sudah barang tentu disandarkan dengan keakraban hubungan calon Perdana Menteri dari Pakatan Rakyat, Anwar Ibrahim dengan rakan-rakan beliau di Indonesia. Meskipun begitu seandainya Barisan Nasional tetap menang, semoga hal yang sama terjadi.

Selama ini hubungan Malaysia dan Indonesia pasca-reformasi 1998 ditandai dengan Malaysia terus mendahului di arena ekonomi dan Indonesia di arena politik, namun perkembangan tahun-tahun belakangan ini menunjukkan kemajuan yang sebaliknya dan ini sesungguhnya sangat baik untuk kedua-dua negara.

Ekonomi Indonesia yang baik ditambah pula dengan sistem politiknya yang sudah maju setapak akan menekan Malaysia baik siapa pemerintahnya untuk lebih humanis berhadapan dengan Indonesia. Malaysia harus bersiap-siap untuk menghadapi Indonesia yang baru dan hanya ada satu jalan iaitu perubahan landskap politik yang boleh datang dalam dua bentuk iaitu pertama pertukaran pemerintah atau kedua, rekonsiliasi di antara parti-parti politik berlawanan demi agenda yang lebih besar.

Pada masa yang sama kita berharap Indonesia juga tidak akan menjadi sombong dan membalas dendam akan kesombongan Malaysia selama ini kerana pada akhirnya baik Malaysia atau Indonesia, keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat itu wajib menjadi agenda terpenting sepanjang masa, bukan hanya kuasa dan kemegahan sementara.

* Segala pandangan yang diberikan di atas hanyalah pandangan peribadi penulis.

Comments